Bandung – Kelabu Pedagang Pagi masih berkabut ketika pintu-pintu kios di Pasar Baru Bandung mulai terbuka satu per satu, disambut oleh langkah gontai para pedagang.
Di lantai bawah, suara besi berderit dari pintu gulung seakan menjadi alarm khas yang membangunkan denyut kehidupan pasar.
Pasar Baru bukan sekadar tempat jual beli, tapi juga nadi kehidupan ribuan pedagang kecil yang menggantungkan harapan di balik etalase.
Namun hari-hari ini, wajah para pedagang tak lagi secerah tumpukan kain yang mereka jual—ada kelabu yang menggantung di mata mereka.
Pandemi memang sudah usai, tapi dampaknya masih membekas seperti noda yang tak bisa hilang dari kain putih.

Baca Juga : Serikat Pekerja Desak Bandung Zoo Segera Dibuka
Dulu, pembeli datang berbondong-bondong dari luar kota, bahkan luar negeri; sekarang lorong-lorong sepi, hanya jejak kaki yang tertinggal di lantai.
Dulu sehari bisa habis sepuluh kodi. Sekarang, seminggu pun belum tentu satu lusin,” katanya lirih.
Ia tidak sendiri. Ratusan pedagang lain juga mengalami hal serupa—penurunan drastis penjualan, naiknya biaya sewa, dan minimnya pembeli.
Beberapa kios yang dulu ramai, kini tutup permanen.
Sebagian beralih profesi: ada yang jadi ojek online, ada pula yang mencoba peruntungan lewat live streaming jualan.
Tapi tidak semua bisa beradaptasi. Banyak yang terjebak dalam dilema: bertahan di tengah ketidakpastian, atau menyerah tanpa kepastian lain.
Pasar Baru seakan berubah dari pusat perdagangan menjadi monumen kesabaran dan keteguhan hati.
Mereka yang bertahan adalah para pejuang kehidupan—yang menganggap hari ini sebagai batu loncatan untuk esok yang mungkin lebih cerah.
Suasana kelabu tidak hanya menyelimuti ekonomi, tapi juga hubungan antarpedagang.
Persaingan makin keras, karena pembeli sedikit tapi kebutuhan tetap banyak. Potongan harga menjadi senjata yang kerap melukai.
Kami ini bukan saling sikut, tapi saling bertahan,” ujar Pak Usman, pedagang sarung yang menempati kios di lantai tiga.
Ia menyayangkan kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap nasib pasar tradisional besar seperti Pasar Baru.
Di tengah gempuran e-commerce dan mall mewah, eksistensi Pasar Baru makin terpinggirkan.






