Bandung – Jabar Puncaki IMTI Jawa Barat kembali mencetak prestasi gemilang di kancah nasional dan internasional. Dalam laporan resmi Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025, provinsi berjuluk “Tanah Pasundan” ini berhasil meraih peringkat pertama, mengalahkan destinasi-destinasi unggulan lainnya di Indonesia.
Tapi pencapaian ini bukan sekadar soal angka atau trofi. Ini adalah cermin keberhasilan Jawa Barat membangun pariwisata yang tidak hanya indah dan menarik, tapi juga ramah, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam.
Lebih dari Sekadar Destinasi

Baca Juga : SBY Ungkap di Balik Lukisan ‘The Legend and The Beauty
Jawa Barat selama ini dikenal dengan lanskap alam yang memesona—dari hijaunya perbukitan Ciwidey hingga birunya pantai Pangandaran. Namun ternyata, keindahan fisik bukan satu-satunya alasan wisatawan Muslim—baik domestik maupun mancanegara—menjadikan Jabar sebagai pilihan utama.
Yang menjadikannya istimewa adalah sentuhan nilai-nilai keislaman yang menyatu dalam setiap elemen wisata:
-
Mushola dan masjid mudah dijangkau, bahkan di tempat wisata terpencil.
-
Kuliner halal bukan barang langka, tapi jadi bagian utama dalam wisata kuliner.
-
Hotel dan penginapan kini makin banyak yang menyertakan fasilitas syariah, seperti penunjuk kiblat, sajadah, hingga layanan ramah keluarga Muslim.
-
Dan yang tak kalah penting: keramahan masyarakat yang menjadi ‘branding alami’ pariwisata halal.
IMTI: Apa dan Mengapa Penting?
Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) adalah indeks yang dikeluarkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), bekerja sama dengan Mastercard-CrescentRating. Indeks ini mengukur kemampuan destinasi wisata dalam memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim, berdasarkan empat indikator utama:
-
Akses (accessibility)
-
Layanan ramah Muslim (amenities)
-
Komunikasi (communications)
-
Lingkungan dan budaya (environment)
Tahun ini, IMTI mencatat peningkatan tajam dalam integrasi prinsip-prinsip wisata halal di Jawa Barat, menjadikannya peringkat satu secara nasional.
Apa Rahasia Sukses Jabar?
Prestasi ini tentu bukan datang tiba-tiba. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, di bawah kepemimpinan Gubernur dan jajaran Dinas Pariwisata, secara konsisten membangun ekosistem wisata yang proaktif dan adaptif terhadap kebutuhan wisatawan Muslim.
Beberapa inisiatif yang jadi sorotan:
-
Pelatihan dan sertifikasi halal bagi pelaku industri pariwisata
-
Digitalisasi layanan wisata Muslim, seperti aplikasi pencarian masjid, restoran halal, dan jadwal salat
-
Promosi destinasi berbasis kearifan lokal Islami, seperti Kampung Naga, pesantren wisata, dan festival budaya bernuansa religius
-
Sinergi dengan UMKM lokal, menciptakan cinderamata dan pengalaman wisata yang tidak hanya menarik, tapi juga bermakna
Jabar untuk Dunia: Pariwisata Muslim yang Siap Go Global
Peringkat satu di IMTI 2025 bukanlah titik akhir, tapi batu loncatan menuju panggung dunia. Dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan Muslim global—diperkirakan mencapai 230 juta jiwa pada 2028—Jawa Barat punya modal kuat untuk menjadi ikon global Muslim-friendly destination.
Bayangkan: wisatawan dari Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Eropa Muslim bisa merasakan kenyamanan beribadah, kuliner halal, hingga nuansa Islami yang tidak artifisial—karena Islam memang hidup dan mengakar dalam masyarakat Sunda.
Penutup: Momentum yang Harus Dijaga
Puncak IMTI 2025 adalah pengakuan, tapi juga tantangan.
Bagaimana menjaga standar ini? Bagaimana melibatkan lebih banyak pelaku lokal dalam ekosistem wisata halal?
Dan yang terpenting: bagaimana membuat wisata ramah Muslim tetap terasa alami, menyenangkan, dan membanggakan—bukan kaku dan eksklusif?
Jika semua pihak—pemerintah, pelaku wisata, masyarakat, dan wisatawan—terus bersinergi, maka bukan tidak mungkin, Jabar akan menjadi kiblat wisata Muslim, bukan hanya di Indonesia, tapi juga Asia dan dunia.






