Bandung – Kesetiaan Sukirno Rawat sejarah adalah catatan masa lalu. Tapi bagi Sukirno (62 tahun), sejarah adalah panggung yang tak boleh redup. Selama lebih dari dua dekade, pria asal Semarang ini menyulap kisah heroik Pertempuran Lima Hari di Semarang menjadi pertunjukan yang hidup—menggabungkan seni, edukasi, dan nasionalisme.
Teater sebagai Perlawanan terhadap Lupa

Baca Juga : Kuliner Jadi Magnet Baru Kota Kembang
Pertempuran Lima Hari di Semarang pada Oktober 1945 adalah salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan Indonesia pasca-proklamasi. Tapi seperti banyak peristiwa sejarah lainnya, gaungnya perlahan memudar di telinga generasi muda.
Melihat itu, Sukirno tidak tinggal diam.
“Kalau mereka tidak membaca buku sejarah, saya harus buat mereka merasakan sejarahnya langsung,” ujar Sukirno saat ditemui di sela latihan teater di aula kecil kawasan Tugu Muda.
Memulai dari Nol, Berjuang Tanpa Sponsor
Berbekal semangat dan pengalaman sebagai pegiat teater rakyat, Sukirno mulai menulis naskah tentang Pertempuran Lima Hari sejak awal tahun 2000-an. Ia menyusun ulang kisah perlawanan para pemuda Semarang, dokter Kariadi, hingga aksi heroik melawan tentara Jepang dalam bentuk drama panggung.
Yang membuatnya luar biasa: nyaris semua produksi dijalankan secara swadaya. Ia merogoh kocek pribadi, mengajak warga sekitar sebagai pemain, bahkan menyulam kostum sendiri.
Panggung yang Berubah Jadi Medan Perang
Setiap tahun, tepat pada bulan Oktober, pentas itu selalu digelar. Kadang di aula sekolah, kadang di halaman museum, kadang di pelataran Balai Kota.
Layar dibentangkan, lampu seadanya disusun. Musik gamelan dicampur dengan efek suara letusan. Namun saat tirai dibuka, penonton seperti dibawa ke tahun 1945.
Anak-anak muda berpakaian lusuh, membawa bambu runcing, berteriak merdeka—sementara di sudut panggung, suara Sukirno bergema lewat narasi dramatis: “Inilah tanah kita. Inilah perlawanan kita. Biar dunia tahu, Semarang tak menyerah begitu saja.”
Menjaring Generasi Muda Lewat Seni
Bukan hanya pementasan, Sukirno juga menggelar workshop teater sejarah untuk pelajar. Ia percaya bahwa seni adalah jembatan paling ampuh untuk menyentuh generasi muda.
“Anak-anak sekarang lebih mudah mengingat lewat pengalaman. Kalau mereka ikut main dalam pementasan sejarah, mereka tidak akan lupa perjuangan itu seumur hidup,” jelasnya.
Penghargaan Datang, Tapi Sukirno Tetap Sederhana
Atas konsistensinya, Sukirno pernah mendapat penghargaan dari pemerintah kota Semarang dan komunitas sejarah. Tapi ia enggan menyebut dirinya pahlawan budaya.
“Saya cuma orang biasa yang takut Semarang lupa sejarahnya.”
Mengubah Ingatan Jadi Warisan
Pertempuran Lima Hari Semarang bukan sekadar catatan buku paket. Di tangan Sukirno, ia menjadi warisan hidup yang bisa dilihat, dirasakan, dan bahkan diperankan langsung oleh warga kota.






