Bandung – Menikmati Hindangan Udara pagi di kawasan Waterfront Jakarta Festival (WJF) 2025 terasa berbeda pada Sabtu (8/11) ini. Aroma kopi yang baru diseduh, suara denting alat musik dari panggung utama, dan sinar matahari yang menembus lembut sela-sela tenda kuliner menjadi perpaduan sempurna bagi pengunjung yang datang lebih awal. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati hiburan musik, tetapi juga untuk menikmati sarapan santai sambil berjemur di tepi laut — pengalaman yang kini menjadi ciri khas baru dari festival musik tahunan tersebut.
Suasana Pagi yang Hangat di Tepi Laut

Baca Juga : Sepeda Motor Misterius dan Surat Wasiat di Jembatan Cisokan
Sejak pukul 07.00 WIB, area WJF Breakfast Corner di sisi barat arena sudah dipenuhi pengunjung. Di sana, deretan stan makanan menawarkan beragam hidangan khas Nusantara dan internasional, mulai dari nasi uduk betawi, bubur ayam Bandung, lontong sayur Medan, hingga croissant dan omelet ala Eropa. Sementara itu, barista-barista muda dari kafe lokal tampak sibuk meracik kopi manual brew dan minuman segar bagi para pengunjung.
“Ini kali pertama saya datang pagi-pagi ke WJF. Ternyata suasananya beda sekali — adem tapi hangat, ada musik jazz lembut dan aroma kopi di mana-mana,” ujar Ratna (32), seorang pengunjung asal Bekasi, sambil menikmati roti bakar dan cappuccino di bawah sinar matahari.
Selain untuk bersantai, area sarapan ini juga dirancang sebagai ruang interaksi sosial. Banyak keluarga dan pasangan muda yang duduk lesehan di atas bean bag warna-warni, menikmati sinar matahari pagi sambil berbincang ringan.
Kolaborasi Musik dan Kuliner
Tema tahun ini, “Morning Harmony”, memang diangkat untuk menonjolkan sisi hangat dan menenangkan dari festival. Direktur Kreatif WJF 2025, Ario Bimantara, menjelaskan bahwa konsep sarapan di tepi laut adalah upaya menghadirkan pengalaman yang lebih intim bagi penikmat musik.
“Kami ingin menciptakan suasana pagi yang menenangkan tapi tetap hidup — di mana orang bisa menikmati sarapan, mendengarkan musik akustik, dan merasakan semangat hari yang baru,” ujar Ario.
Selama sesi sarapan, pengunjung dihibur dengan penampilan akustik dari musisi muda, seperti Raisa Nurhaliza, Ari Lesmana (Fourtwnty), dan project kolaborasi jazz-acoustic oleh Barry Likumahuwa & Friends. Musik yang mengalun lembut dari panggung kecil di tepi laut memberi kesan santai namun berkelas, menambah kenikmatan suasana pagi.
Menu Favorit: Dari Tradisional Hingga Fusion
Salah satu daya tarik utama sesi sarapan WJF adalah keberagaman menunya. Tahun ini, lebih dari 40 tenant kuliner bergabung, termasuk restoran terkenal dan UMKM kuliner dari berbagai daerah.
Tak ketinggalan, ada juga menu fusion seperti “Rendang Sandwich” dan “Tempe Croquette” yang memadukan cita rasa lokal dengan sentuhan modern.
“Kami ingin membawa kekayaan rasa Nusantara ke panggung internasional lewat cara yang lebih segar. WJF memberi ruang bagi pelaku kuliner muda untuk berinovasi,” ungkap Chef Aditya Pranata, salah satu kurator kuliner di WJF 2025.
Aktivitas Sehat Sambil Menikmati Alam
Tak hanya makan dan menikmati musik, banyak pengunjung memanfaatkan waktu pagi untuk berolahraga ringan. Area terbuka di sisi selatan festival menyediakan sesi yoga dan tai chi gratis, yang dipandu oleh instruktur profesional. Peserta kemudian diajak sarapan bersama sambil menikmati jus segar dan buah tropis.






