Bandung – Club Dangdut Racun Hari pertama gelaran We The Fest (WJF) 2025 benar-benar ditutup dengan spektakuler. Bukan oleh musisi luar negeri, melainkan oleh penampilan unik nan energik dari grup musik fenomenal Club Dangdut Racun (CDR). Grup yang dikenal dengan gaya nyentrik dan aransemen koplo modern itu sukses mengguncang panggung utama dengan penampilan yang memadukan musik tradisional Indonesia, elektronik, hingga nuansa pop-funk internasional.
Malam itu, ribuan penonton yang memadati area Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta tampak larut dalam suasana pesta musik yang penuh warna. Dari kalangan anak muda, influencer, hingga tamu undangan dari luar negeri ikut bergoyang bersama.
Irama Koplo Menjadi Penutup yang Tak Terlupakan

Baca Juga : Sepeda Motor Misterius dan Surat Wasiat di Jembatan Cisokan
Sekitar pukul 22.30 WIB, Club Dangdut Racun naik ke panggung utama. Lampu sorot menari-nari, dentuman bass berdentum, dan teriakan penonton pecah ketika vokalis Tasya Dhirga dan Putra Agung muncul dengan busana glamor khas panggung dangdut kontemporer.
Tanpa basa-basi, CDR langsung membuka penampilan dengan lagu andalan mereka “Racun Dunia”, diikuti deretan hits seperti “Goyang Semesta”, “Malam di Jakarta”, dan remix mengejutkan dari “Asereje x Oplosan” yang langsung membuat penonton bersorak.
“Kami cuma mau bilang satu hal — dangdut itu keren, dan malam ini kita rayakan bareng-bareng!” teriak Tasya dari atas panggung, disambut tepuk tangan dan sorakan panjang penonton.
Suasana semakin panas ketika mereka membawakan lagu klasik “Gelandangan” karya Rhoma Irama dalam versi elektronik koplo yang menghentak. Perpaduan tabuhan gendang, beat EDM, dan tata cahaya warna-warni membuat panggung WJF berubah menjadi arena dansa kolosal.
Perpaduan Tradisi dan Modernitas
Penampilan Club Dangdut Racun malam itu bukan sekadar hiburan, tetapi juga bentuk perayaan musik Indonesia di panggung internasional. Mereka berhasil menunjukkan bahwa musik dangdut, yang selama ini identik dengan panggung rakyat, mampu tampil sejajar dengan genre musik global.
WJF yang biasanya menampilkan deretan musisi indie, pop, hip-hop, dan elektronik dari berbagai negara, kali ini memberikan ruang besar bagi musisi lokal dengan karakter kuat. Dan Club Dangdut Racun menjawab tantangan itu dengan sangat percaya diri.
“Kami ingin menunjukkan bahwa musik lokal bisa mendunia tanpa harus kehilangan jati diri. Dangdut itu punya energi dan kegembiraan yang universal,” ujar Putra Agung dalam sesi konferensi pers usai tampil.
Penonton Antusias, Panggung Penuh Warna
Hampir di setiap lagu, penonton terlihat tidak berhenti bergoyang. Banyak yang mengibarkan bendera kecil bertuliskan “Racun Nation”, sebutan bagi penggemar setia mereka. Bahkan, beberapa musisi internasional yang hadir di area VIP ikut turun ke depan panggung untuk menikmati penampilan CDR.
Selain musik, pertunjukan visual mereka juga mencuri perhatian. Layar LED raksasa menampilkan animasi psychedelic dengan motif batik neon dan ilustrasi wayang digital — perpaduan budaya lokal dengan teknologi modern yang jarang terlihat di festival musik besar.
“Gila sih, ini bukan cuma konser, tapi pengalaman budaya yang keren banget! Gue baru kali ini lihat orang luar negeri joget bareng lagu dangdut,” kata Ari, 24 tahun, salah satu penonton asal Bandung yang datang bersama komunitas musik indie.
WJF 2025: Panggung Global, Jiwa Nusantara
Tahun ini, We The Fest 2025 mengusung tema “Sound of the Future, Rooted in Culture”, yang berarti menampilkan musik masa depan tanpa melupakan akar budaya. Penampilan Club Dangdut Racun menjadi puncak yang sempurna dari semangat tersebut.
Sebelumnya, di hari pertama WJF juga tampil musisi besar seperti HONNE (UK), Laufey (Iceland), dan Nadin Amizah, yang sukses membangun suasana romantis dan syahdu. Namun ketika malam menutup, energi berubah total — suasana menjadi lebih bebas, riang, dan menggila berkat irama dangdut koplo yang mengguncang bumi Senayan.
“Ini pertama kalinya WJF ditutup dengan musik dangdut. Kami ingin menunjukkan bahwa festival ini bukan hanya tentang musik barat, tapi juga tentang keunikan identitas kita sendiri,” kata Ismaya Live, penyelenggara WJF 2025, dalam pernyataan resminya.
Dangdut ke Arah Global
Fenomena Club Dangdut Racun memang tidak lepas dari tren globalisasi musik lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, dangdut dan koplo mulai mendapat perhatian di kancah internasional
Club Dangdut Racun menjadi bagian dari gelombang baru musisi muda Indonesia yang menyebarkan semangat dangdut ke dunia global dengan gaya milenial.
“Kami ingin anak muda tidak malu lagi bilang mereka suka dangdut. Karena kalau dikemas dengan cara yang segar, musik ini bisa diterima di mana pun,” ujar Tasya Dhirga.
Malam yang Jadi Sejarah
Tasya berteriak, “Ini bukan akhir, ini baru awal! Kita buktikan musik Indonesia bisa go international!”
Bagi banyak orang yang hadir malam itu, penampilan Club Dangdut Racun bukan sekadar konser — tetapi momen bersejarah di mana musik rakyat Indonesia berdiri sejajar dengan bintang dunia, dan dangdut membuktikan dirinya bukan musik kelas dua, melainkan jiwa sejati hiburan Nusantara.






